Green Culture Podcast

Green Industry

Refleksi Sektor Swasta

Aziz Armand, CEO PT. Indika Energy, Tbk pernah bercerita pandangannya terhadap industri hijau, “Kalau tidak sekarang,  bagaimana masa depan anak-anak kita nantinya?”

Tapi, Co-Host, Indah Budiani bilang itu belum cukup, karena masih terhitung individu, bukan gerakan besar. Prof. Damayanti, Host, menggorek Indah Budiani yang mewakili industri: apa saja yang akan dilakukan industri, apa yang menjadi kesulitan terkait klaim produk hijau, tahapan menuju hijau, dan banyak lagi.

Selamat mendengarkan episode refleksi kali ini, sambil minum kopi bersama orang tersayang.

Dampak Pajak Karbon Terhadap Sektor Swasta

Sektor swasta boleh-boleh saja mengubah line bisnis menjadi hijau. Namun, sudahkah mereka memahami skema perdagangan karbon, pungutan karbon, dan skema lainnya?

Sebab, tarif pajak akan berpengaruh pada harga perdagangan karbon. Jika Indonesia tidak melakukannya sekarang, maka produksi kita tidak akan kompetitif dan harganya akan sangat mahal.

Yuk, ketahui lebih lanjut tentang ini. Masih bersama Dr. Joko Tri Haryanto dan Indah Budiani, serta Eka Satya Putra, sang narator.

Episode ini adalah bagian pertama Green Industry dari putaran ketiga Green Culture Podcast.

Perusahaan Batubara Bertransformasi Menjadi Hijau

PT. Indika Energy, Tbk., bergerak di bidang investasi pengembangan energi. Yang awalnya investasi besar mereka adalah batubara, kini berubah haluan menjadi energi yang berkelanjutan.

Bagaimana perusahaan investasi berkontribusi dalam energi berkelanjutan, apakah mereka benar-benar melakukan aksi konkritnya? Mari bersama mendengarkan bintang tamu podcast kali ini, yaitu Aziz Armand, Vice President Director PT. Indika Energy, Tbk.

Host, Prof. Damayanti Buchori dan Co-Host Indah Budiani, IBSCD, akan melontarkan serangan pertanyaan kepada narasumber. Kemudian ditutup dengan narasi oleh Eka Setya Putra. Selamat mendengarkan.

Aksi Konkret Perusahaan Bohlam

Pada episode-episode sebelumnya, Green Culture membicarakan pemahaman konsep “Budaya Hijau” dan perilaku “Budaya Tak Hijau” atau Brown Culture beserta isu-isunya. Tak sekedar percakapan, kali ini, kami hadirkan kerja konkrit dari sebuah perusahaan, yakni PT. Signify. Dalam melahirkan produknya, mereka telah berhasil mencapai “Zero Net Carbon” pada tahun 2020.

Danny Gunadi, PT Signify, menjelaskan bahwa produk mereka sekarang mempunyai umur yang lebih panjang, dan ini tidak membuat perusahaan rugi atau bangkrut. Justru memperluas pasar mereka. Bagaimana bisa?

Ikuti pengalaman ‘hijau’ PT. Signify, bersama Host, Damayanti Buchori, Narator, Eka Satya Putra, dan Penanggap, Aloysius Wiratmo, Program Development Manager IBCSD.

Mengubah Model Bisnis untuk Profit dan Keberlanjutan

Aloysius Wiratmo, Program Development Manager IBCSD, mengatakan bahwa perubahan model bisnis dalam industri hijau justru dapat memberikan keuntungan lebih untuk industri.

Pelaku industri sebaiknya meninjau suatu produk dari proses pembuatan (made), penggunaan (use), dan pembuangan (recycle), ternyata, proses tersebut masih berlanjut. Sampah atau produk yang tidak digunakan lagi, dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi. Dalam hal ini model bisnis dan pasar menentukan masa depan bumi kita.

Perubahan model bisnis dan perilaku pasar yang bagaimana yang dapat saling memberikan keuntungan? Lebih jelasnya, silakan dengarkan podcast kedelapan kami.

 

2° Titik Ambang Kematian Bumi

Indah Budiani dari IBCSD (Indonesian Business Council for Suistainable Development), bercerita mengenai “Dua Derajat”, ambang suhu bumi yang disepakati global dalam mengatasi pemanasan global. Jika melebihi, maka bumi akan mengalami musim kekeringan berkepanjangan dan naiknya permukaan air laut.

Industri punya peran besar terhadap “Dua Derajat”. Peran yang seperti apa terkait brown culture (budaya tak hijau), apakah hanya soal limbah dan bagaimana penerapan triple bottom line (people, planet, dan profit)?

Podcast kali ini, Green Culture mengundang Indah Budiani sebagai narasumber yang akan menerangkan industri hijau. Masih bersama Host Prof. Damayanti Buchori dan Narator, Eka Setya Putra, segera klik tombol start untuk mendengarkan perbicangan mereka.