Green Culture Podcast

Green Energy

Masa Depan Green Energi di Indonesia

Apakah green energy di Indonesia punya masa depan?

Traction Energy Indonesia belum lama ini menanyakan kepada publik mengenai sumber energi terbarukan. Jawaban yang diterima sungguh miris. Terlebih jawaban dari anak-anak muda yang menganggap bahwa batubara di Indonesia tidak pernah akan habis. Kenyataan apa lagi yang dibeberkan Co-Host Annisa Sekar Sari dari Traction Energy pada episode refleksi kali ini?  Silakan simak penuturannnya, ditemani Host kita, yaitu Prof. Damayanti Buchori, CTSS dan narator, Eka Satya Putra, CTSS.

Episode kali ini adalah bagian kedua Green Energy dari putaran ketiga Green Culture Podcast.

Pajak Karbon

Pajak karbon bakal hadir menjadi bagian hidup kita.

Pajak karbon atau carbon tax  akan diterapkan untuk mengubah perilaku industri. Sebab, ia akan menjadi berriel utama di Indonesia, bahkan dunia. Di Indonesia, kebijakan ini bukan revenue center dan akan dilakukan secara transisi, tidak mendadak, dan terjangkau, agar lingkungan bisa dipelihara bersama-sama dengan baik.

Tarif harga yang akan diterapkan nanti, tidak akan mengikuti “kehendak” dunia. Indonesia akan melihat berbagai dimensi, seperti sarana-prasarana, ekonomi, interaksi manusia yang ada terkait hal ini, dan banyak lagi. Pastinya negara tidak boleh bangkrut!  Jadi, bagaimana sebenarnya pajak karbon itu akan diterapkan, apakah seluruh masyarakat akan dikenakan atau hanya pelaku industri saja?

Karena ini persoalan penting, yuk dengarkan lebih jelasnya dari narasumber Dr. Joko Tri haryanto dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Host, Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc., kali ini ditemani Co-Host, Annisa Sekar Sari dari Traction Energy Asia. Pada akhir podcast, narator, Eka Satya Putra, CTSS, akan menutup dengan kesimpulan yang tajam mencerahkan. Podcast ini adalah episode Green Energy bagian pertama pada putaran ketiga Green Culture Podcast.

Kampanye Hijau Elemen Pengganggu Pemerintah

Siapa yang tidak kenal Greenpeace, lembaga nonprofit internasional yang kerap berlawanan dengan pemerintah. Sehingga muncul istilah “pengganggu elemen pemerintah” di podcast kali ini, yang masih berhubungan dengan kampanye energi hijau.

Menariknya, Greenpeace dalam kampanye melibatkan people power yang dapat menggerakkan masyarakat. Namun, kelapa sawit yang menjadi komoditas unggulan juga dimiliki masyarakat. Bagaimana mereka menelaah problema untuk kampanye hijau yang dilakukan?

Arkian Suryadarma, dari Greenpeace, membeberkan kiat mereka berkampanye hijau. Ditemani Host, Prof. Damayanti Buchori, Co-Host, Ricky Amukti dari Traction Energy Asia, dan Narator, Eka Satya Putra dari CTSS IPB.

 

Kampanye Hijau?

Apakah kampanye energi terbarukan sudah efektif dan efesien?

Menurut narasumber, Tommy Ardian Pratama, Direktur Eksekutif Traction Energy Asia, bukan saja masalah literasi. Dua diantaranya adalah respon pemerintah yang lambat terhadap perubahan iklim dan riset penelitian.

Tapi, pemerintah sudah melancarkan kampanye, harus bagaimana menumbuhkan kesadaran perilaku hijau masyarakat Indonesia? Simak perbincangan kami. Kali ini Ricky Amukti dari Traction Energy Asia, sebagai Co-Host, tak ketinggalan Host, Prof. Damayanti Buchori dan Narator, Eka Satya Putra, keduanya dari CTSS IPB.

Bijak Berbudaya Hijau

Saat ini, Indonesia belum mempunyai road map energi terbarukan. Sebab konsep “Lokal” belum dijalankan sepenuhnya oleh masyarakat maupun pemerintah.

Energi terbarukan yang digunakan pun, sebaiknya menggunakan energi lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Terdapat poin penting mengenai konsep “energi terbarukan”, yaitu kemudahan akses, terjangkau, dan keberlanjutan. Berarti, selain perilaku dan jenis energi, kita perlu melihat bahan-bahan pendukung, penggunaan, pengolahan, dan distribusi energi terbarukan. Dalam hal ini, manusia dengan latar belakang yang berbeda, harus bijak mewujudkan “budaya hijau”.

Ikuti kelanjutan narasi di atas, langsung dari podcast episode ke-4. Bersama sosok muda, Rikcy Amukti dari Traction Energy Asia.

 

Energi Hijau Belum Tentu Rendah Emisi

Energi hijau atau terbarukan harus dinilai dari Life Cycle Analysis-nya. Tidak hanya dihitung saat produk tersebut digunakan, tapi juga proses produksi, tanam, atau saat ditemukan, hingga dikonsumsi masyarakat. Jadi, belum tentu energi terbarukan itu rendah karbon. Panel surya pun belum tentu rendah emisi, kita harus memperhatikan apakah produksinya berkelanjutan atau tidak.

Lalu, apa yang cocok diaplikasikan di Indonesia, energi bayu (angin), sungai, atau matahari? Masih bersama Host Prof. Damayanti Buchori, ahli entomologi, ekologi evolusioner, dan ilmu transdisipliner dan berkelanjutan. Ditemani Co-host, Eka Satya Putra dari CTSS (Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences) Institut Pertanian Bogor.

Dengan bintang tamu muda: Ricky Amukti, Traction Energi Asia (Lembaga riset yang fokus pada penurunan emisi, pembangunan lokal, transisi ekonomi, dan lain sebagainya).